Minggu, 27 Maret 2011

 Komunitas HACKER Indonesia

Pergeseran Makna Hacker
Log In, Hack In, Go Anywhere, Steal Anything. Ungkapan tersebut terpampang mencolok di sampul VCD berjudul Swordfish, sebuah film keluaran Hollywood pada tahun 2001. Dalam film tersebut dikisahkan bagaimana seorang veteran hacker bernama Stanley Jobson (diperankan oleh Hugh Jackman) tergiur dengan iming-iming imbalan uang yang ditawarkan oleh Ginger (diperankan oleh Halle Berry) atas perintah Gabriel Shear (diperankan oleh John Travolta). Jobson yang kehidupannya nyaris bangkrut tersebut diperintah oleh Shear untuk membobol sekuriti komputer sebuah bank sentral. Melalui keahliannya meng-hacking, maka Shear berhasil memindahkan sejumlah nominal uang secara digital dari satu bank ke beberapa bank lainnya di dunia.
Apa yang digambarkan oleh film Swordfish tersebut sejatinya membiaskan makna hacker yang sesungguhnya. Pada film tersebut, hacker diidentikkan dengan seseorang yang bertangan dingin dalam mengutak-atik program komputer dan melakukan upaya-upaya penerobosan suatu sistem komputer tanpa otorisasi yang sah dengan tujuan untuk mengambil atau mencuri sesuatu. Cracker, adalah istilah yang paling tepat untuk menyebutkan profesi Jobson pada film tersebut. Sebelum kita mengupas lebih jauh tentang perbedaan hacker dan cracker, serta problematikanya di Indonesia, ada baiknya kita beberkan lebih lanjut beberapa dosa Hollywood (baca: Amerika) dalam membiaskan makna hacker dan cracker.
Kita ingat, pada tahun 1995 Hollywood mengeluarkan sebuah film berjudul Hackers, yang menceritakan pertarungan antara anak muda jago komputer bawah tanah dengan sebuah perusahaan high-tech dalam menerobos sebuah sistem komputer. Dalam film tersebut digambarkan kisah anak-anak muda yang terobsesi menembus dan melumpuhkan keamanan sistem komputer perusahaan tersebut. Penembusan sistem keamanan tersebut merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh oleh sekelompok anak muda tersebut jika ingin bergabung dalam sebuah kelompok hacker elit. Dalam film tersebut, Angelina Jolie berperan sebagai Kate Libby alias Acid Burn.
Kemudian pada tahun yang sama keluar pula film berjudul The Net yang dimainkan oleh Sandra Bullock sebagai Angela Bennet. Film tersebut mengisahkan bagaimana perjuangan seorang pakar komputer wanita yang identitas dan informasi jati dirinya di dunia nyata
telah diubah oleh seseorang, melalui jaringan Internet. Selanjutnya pada tahun 1999 diluncurkan film berjudul Take Down, mengangkat kisah nyata perburuan Kevin Mitnick (diperankan oleh Skeet Ulrich), pembobol sekuriti, oleh Tsutomo Shimomura (diperankan
oleh Russel Wong), pakar sekuriti. Dalam film tersebut secara jelas diucapkan dan dituliskan bahwa Kevin Mitnick adalah seorang hacker yang melanggar hukum.
Meskipun Shimomura menegaskan kepada petugas FBI McCoy Rollins (yang diperankan oleh Tom Berenger) bahwa Mitnick adalah cracker sedangkan Shimomura adalah hacker, pada awal film tersebut tampak jelas bahwa media massa Amerika menyebut Mitnick sebagai seorang hacker. Uniknya, terdapat perdebatan norma di dalam film tersebut antara hacker dan cracker, antara Mitnick dan Shimomura. Karena pada dasarnya mereka berdua melakukan hal yang sama dalam penetrasi sekuriti. Bedanya, Mitnick melakukannya atas dasar kebebasan informasi, sedangkan Shimomura atas dasar tindakan perlindungan informasi.
Dengan keluarnya film-film versi industri Hollywood tersebut, maka eksistensi terminologi hacker semakin jauh dari yang pertama kali muncul di tahun 1960-an di MIT. Media massa Amerika pun lebih sering menggunakan istilah hacker. Sekedar contoh, pada Newsweek edisi 21 Februari 2000, pada cover depan tertulis: “The Hunt for the Hackers. Hijacking the Net. How to Protect Yourself”. Di dalam majalah tersebut, terdapat 10 halaman yang mengulas tentang sekuriti dan kebijakan pemerintah Amerika pasca serangan Distributed Denial of Service (DDoS) ke situs-situs ternama. Judul utama ke 10 halaman tersebut adalah “Hunting The Hackers”.
Maka kesalah-kaprahan penggunaan terminologi hacker tersebut notabene adalah berawal dari negara kelahirannya sendiri, Amerika. Kemudian masyarakat dan media massa di Indonesia pun mau tidak mau melakukan hal yang sama, menggunakan terminologi hacker yang bias dengan terminologi cracker.
Terminologi hacker muncul pada awal tahun 1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka berkutat dengan sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kalinya muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik ketimbang yang telah dirancang bersama sebelumnya.
Kemudian pada tahun 1983, analogi hacker semakin berkembang untuk menyebut seseorang yang memiliki obsesi untuk memahami dan menguasai sistem komputer. Hal tersebut disebabkan karena pada saat itu untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis di Milwaukee AS. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut oleh media massa Amerika sebagai hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos.
Satu dari pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan lima pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan. Pada tahun yang sama keluar pula sebuah film berjudul War Games yang salah satu perannya dimainkan oleh Matthew Broderick sebagai David Lightman. Film tersebut menceritakan seorang remaja penggemar komputer yang secara tidak sengaja terkoneksi dengan super komputer rahasia yang mengkontrol persenjataan nuklir AS.
Menurut James O’Brien dalam bukunya Management Information System (McGraw-Hill, 1999), hacking didefinisikan sebagai sebuah perilaku obsesif dan atau tanpa otorisasi yang sah dalam menggunakan komputer atau sistem jaringan komputer dan pelakunya disebut dengan istilah hacker. Ditambahkan pula bahwa hacker ilegal, yang kerap mencuri dan atau merusak data atau program, mencuri kartu kredit hingga mengganti tampilan suatu situs di Internet disebut dengan istilah cracker, dan aktifitasnya disebut cracking.
Secara spesifik, Richard Mansfield dalam bukunya Hacker Attack (Sybex, 2000) mendefinisikan hacker sebagai seseorang yang memiliki keinginan untuk melakukan eksplorasi dan penetrasi terhadap sebuah sistem operasi dan kode komputer pengaman lainnya, tetapi tidak melakukan tindakan pengrusakan apapun, tidak mencuri uang atau informasi. Mansfield menambahkan bahwa cracker adalah sisi gelap dari hacker dan memiliki kertertarikan untuk mencuri informasi, melakukan berbagai macam kerusakan dan sesekali waktu juga melumpuhkan keseluruhan sistem komputer.
Hacker sebenarnya memiliki kode etik yang pada mulanya diformulasikan dalam buku karya Steven Levy berjudul Hackers: Heroes of The Computer Revolution, pada tahun 1984. Kode etik hacker tersebut, yang kerap dianut pula oleh para cracker, adalah :
  1. Akses ke sebuah sistem komputer, dan apapun saja dapat mengajarkan mengenai bagaimana dunia bekerja, haruslah tidak terbatas sama sekali
  2. Segala informasi haruslah bebas
  3. Jangan percaya pada otoritas, promosikanlah desentralisasi
  4. Hacker haruslah dinilai dari sudut pandang aktifitas hackingnya, bukan berdasarkan standar organisasi formal atau kriteria yang tidak relevan seperti derajat, usia, suku maupun posisi.
  5. Seseorang dapat menciptakan karya seni dan keindahan di komputer
  6. Komputer dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.
Mansfield menyatakan bahwa perbedaan terminologi antar hacker dan cracker terkadang menjadi bias dan hilang sama sekali dalam perspektif media massa dan di masyarakat umum. Bahkan para cracker juga tidak jarang menyebut diri mereka sebagai hacker sehingga menyebabkan citra hacking menjadi buruk. Pernyataan tersebut merupakan penguatan dari pendapat Christian Crumlish dalam bukunya The Internet Dictionary (Sybex, 1995) yang menyatakan bahwa masyarakat di luar komunitas Internet, baik media massa maupun masyarakat umum, lebih familiar menggunakan istilah hacker untuk setiap perilaku eksplorasi dan penetrasi sebuah sistem komputer yang dilakukan secara ilegal dan cenderung bersifat merugikan pihak lain.
Untuk selanjutnya, dalam artikel ini terminologi hacker yang akan dipakai akan mengacu kepada “seseorang yang melakukan penetrasi atau masuk ke dalam suatu sistem komputer tanpa otorisasi yang sah”. Terminologi hacker yang dipakai tersebut merupakan terminologi yang lebih kerap digunakan oleh media massa dan dipahami masyarakat umum.
Hacker Sebagai Individu Sosial
Sebagai individu sosial, seorang hacker tidak pernah lepas dari proses interaksi sosial dengan hacker lainnya atau dengan komunitas hacker-nya. Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, sehingga kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakukan individu yang lain atau sebaliknya. Dari interaksi sosial tersebut maka akan terbentuklah suatu kelompok sosial.
Kelompok sosial adalah suatu unit sosial atau kesatuan sosial yang terdiri atas dua individu atau lebih yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma yang khas bagi kelompok itu. Komunikasi antara hacker dengan hacker lainnya menggunakan sebuah media komunikasi berbasis Internet.
Winn Schawartau dalam bukunya Information Warfare (Thunder’s Mouth Press, 1996) menegaskan bahwa hacker merupakan salah satu jenis individu yang menggunakan Internet sebagai media komunikasi dan media interaksi sosial antar sesama hacker lainnya. Ditambahkan pula oleh Schawartau bahwa kelompok hacker merupakan sebuah subkultur dari masyarakat yang memiliki ketertarikan yang sama dalam hal elektronis (jaringan komputer di Internet) dan antar anggotanya saling terlibat secara mental (emosional). Menurut Howard Rheingold dalam bukunya The Virtual Community (The MIT Press, 2000), Internet merupakan sebuah peluang untuk menghadirkan kembali hubungan antar pribadi yang pada saat ini intensitasnya semakin berkurang.
Di dalam Internet, perbedaan gender, usia, bangsa dan penampilan fisik tidak menjadi soal, karena memang hal tersebut tidak bisa dilihat langsung. Itulah yang menyebabkan hacker tertarik untuk menggunakan Internet sebagai sarana komunikasi dan sekaligus membentuk suatu komunitas, yaitu lantaran Internet memungkinkan hacker dapat berinteraksi dengan pihak lain tanpa harus menunjukkan jati diri sebenarnya (anonimitas / anonimity).
Joel Best dan David Luckenbill dalam bukunya Organizing Deviance (Prentice Hall, 1994) menganalisa bahwa perilaku menyimpang hacker memiliki dua setting yaitu onstage dan backstage. Onstage adalah ketika masing-masing individu beraksi sendiri melakukan hacking, sedangkan backstage adalah saat ketika para pelaku sedang tidak melakukan hacking dan mereka berkumpul untuk saling bersosialisasi dan berkomunikasi.
Berangkat dari beberapa pemahaman di atas, maka artikel ini mencoba memaparkan intisari dari tesis penulis yang berjudul “Pola Komunikasi Dalam Kelompok Hacker Dan Hubungannya Dengan Kegiatan Hacking : Studi Kasus Pada Hacker Di Indonesia”, dan telah dipertahankan di hadapan sidang penguji tesis program studi Ilmu Komunikasi program pascasarjana Universitas Indonesia (UI) pada tanggal 24 Januari 2002. Tesis penulis tersebut menggunakan metodologi kualitatif dengan tipe penelitian eksploratif untuk mendapatkan pemahaman tentang pola pola komunikasi dalam kelompok hacker dan hubungannya dengan kegiatan hacking. Penulis telah menggunakan Internet, khususnya aplikasi Internet Relay Chat (IRC) sejak tahun 1996 dan berprofesi sebagai wartawan bidang TI di media online Detikcom sejak Desember 1999 hingga November 2001.
Saat di Detikcom, penulis banyak melakukan pengamatan perilaku hacker dan menulis berita tentang aktifitas hacking, sehingga mendapatkan pemahaman yang cukup mendalam tentang bagaimana sebuah komunitas maya dapat terbentuk serta dinamika kelompok hacker di Indonesia. Kemudian penulis mulai intensif mengamati chat room para hacker ketika maraknya aktifitas hacking sepanjang tahun 2000 dan tahun 2001. Sebelum menentukan hacker mana yang tepat dan bersedia diwawancara sebagai data primer tesis, penulis melakukan observasi tahap awal ke beberapa chat room hacker, serta melakukan studi literatur tentang berita-berita kegiatan hacking yang dilakukan oleh hacker Indonesia.
Beberapa chat room hacker yang diobservasi antara lain chat room #Hackerlink, #AntiHackerlink, #IndoSniffing, #Jasakom, #Betalmostdone dan #K-Elektronik. Kemudian untuk studi literatur difokuskan pada berita-berita dan artikel-artikel tentang hacker Indonesia dan kegiatan hacking yang dimuat oleh media massa Indonesia. Akhirnya penulis menetapkan tujuh hacker Indonesia yang bersedia di wawancara secara intensif melalui e-mail. (nickname hacker kami samarkan – penulis).
Karakteristik Komunitas Hacker
Berdasarkan hasil analisa dari data-data yang telah dikumpulkan oleh penulis, terdapat fakta bahwa hacker yang memiliki atau bergabung dalam suatu kelompok hacker tertentu, ternyata menggunakan Internet Relay Chat (IRC) atau chatroom. Bukan tidak mungkin bahwa hacker yang tergabung dalam sebuah chatroom dalam jangka waktu tertentu, secara berkala dan konsisten, bisa membentuk sebuah kelompok hacker tertentu.
Nama kelompok hacker tersebut akan mengikuti nama chat roomnya, ataupun nama chatroom yang dipilih akan menyesuaikan dengan nama kelompok hacker tersebut. Nama dari sebuah chatroom akan mengidentifikasikan nama kelompok hacker tersebut, demikian pula sebaliknya, nama sebuah kelompok hacker akan mengidentifikasikan nama chatroom yang digunakan. Contohnya kelompok hacker AntiHackerlink, Jasakom dan K-Elektronik, masing-masing memiliki chatroom dengan nama #AntiHackerlink, #Jasakom dan #K-Elektronik. Ketiga chat room tersebut berada di sebuah server Internet global yang bernama DALnet.
Berikut ini adalah data-data teknis ketiga chatroom tersebut :
Info for #antihackerlink: Founder : (Anon@202.146.241.142) Mode Lock : -m Last Topic : http://www.research.att.com/sw/tools/uwin/ (zer0_c00l) Description: ::..:: We Are Indonesia Hacker’s Crew ::..:: Options : SecuredOps, Verbose, “Sticky” Topics Memo Level : AOP Registered : Sat 12/01/2001 09:53:08 GMT Last opping: Sun 12/23/2001 09:46:56 GMT End of Info
Info for #jasakom: Founder : (sdfgsdf@202.47.64.58) Mode Lock : -i Description: WWW.JASAKOM.COM Memo Level : AOP Registered : Tue 05/29/2001 02:30:10 GMT Last opping: Sun 12/23/2001 09:42:37 GMT End of Info
Info for #k-elektronik: Founder : (~XWindows@thugscript.net) Mode Lock : +cnt-sipkR Last Topic : | Kecoak Crew | the great way to learn (wellex) Description: www.k-elektronik.org URL : http://www.k-elektronik.org Options : SecuredOps, Ident, Topic Lock(S) Memo Level : SOP Registered : Tue 12/04/2001 08:35:17 GMT Last opping: Sun 12/23/2001 11:50:29 GMT End of Info
Tampak jelas dalam data-data di atas mengenai nickname pendiri (founder), waktu didirikan (registered), deskripsi (description) chatroom, dan sebagainya. Sebuah chatroom dapat menjadi suatu perwujudan dari keberadaan sebuah kelompok sosial atau komunitas hacker. Kemampuan dan fungsi chatroom memang memungkinkan hal tersebut.
Pertama, chatroom mampu berfungsi sebagai sarana komunikasi sosial dan dapat pula menjadi manifestasi kelompok sosial itu sendiri. Kemampuan chatroom menjadi sebuah sarana komunikasi sosial karena secara teknis di dalam chatroom para chatters dapat melakukan komunikasi interpersonal (private chat) dan komunikasi kelompok (public chat). Baik private chat maupun public chat, antar pelakunya harus berada dalam satu tempat yang sama (bertemu dalam satu chatroom tertentu) dan dalam waktu yang sama pula (real time). Salah satu tahap terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak, yang bisa bersifat sekunder (menggunakan media tertentu, dalam hal ini melalui chatroom) dan langsung (tanpa perantara individu lain meskipun tidak face-to-face).
Keduam chatroom mampu menjadi sebuah kelompok sosial. Hal tersebut tak lepas pula dari karakteristik teknis chatroom itu sendiri. Pertama-tama, kita definisikan dahulu arti kata kelompok sosial. Menurut George Hillery dalam jurnal CyberSociology (link http://www.cybersoc.com), ciri komunitas adalah adanya sekelompok orang yang saling melakukan interaksi sosial dan ada suatu persamaan yang mengikat mereka pada kelompok tersebut dan antar sesama anggota kelompok, serta mereka berbagi area tertentu dalam jangka waktu tertentu.
Geoffrey Liu dalam jurnal Computer-Mediated Communication (link http://www.ascusc.org/jcmc), menetapkan beberapa syarat terjadinya komunitas atau kelompok sosial maya, yaitu: (1). adanya ruang publik maya, (2). adanya aktifitas komunikasi dari para komunikator, (3). adanya anggota dengan jumlah besar sehingga memungkinkan terjadinya beberapa interaksi, (4). adanya kestabilan jumlah anggota dan konsistensi pemunculan anggota dan (5). adanya interaktifitas pesan verbal, pesan simulasi aksi dan konsistensi penggunaan nickname.
Di dalam chatroom, khususnya server DALnet, ada jenjang struktural dan fungsional yang baku. Jenjang pertama dan tertinggi adalah founder, super operator (SOP) dan auto operator (AOP) dan temporary operator. Keempat jabatan tersebut selain struktural, juga fungsional. Mereka secara umum disebut Operator (OP) dan menggunakan tanda “@” di depan nickname mereka. Nickname mereka secara otomatis akan berada di urutan teratas dari listname pengunjung chatroom. Ketiganya merupakan penguasa sebuah chatroom yang dapat mengundang orang lain untuk datang, mengusir paksa orang dan mengawasi setiap percakapan publik yang terjadi di chatroom.
Founder adalah pemegang akses tertinggi dalam sebuah chatroom dan hanya dipegang oleh satu orang saja. Seorang founder bisa mengangkat SOP dan AOP. SOP bisa mengangkat AOP. Pengangkatan para SOP dan AOP tersebut memerlukan pendekatan kepada atasaanya. Karena tidak jarang para chatters terpisah antar negara dan sama sekali tidak pernah bertemu satu dengan yang lainnya secara face-to-face. Pengangkatan jabatan tersebut harus berdasarkan kepercayaan dan tidak jarang dengan melakukan lobi-lobi.
Kembali ke pendapat Hillery, syarat penting terjadinya sebuah komunitas maya adalah adanya suatu persamaan yang mengikat mereka pada kelompok tersebut dan antar sesama anggota kelompok, serta mereka berbagi area tertentu dalam jangka waktu tertentu. Para anggota kelompok hacker di chatroom memiliki persaman yang mengikat yaitu anggotanya sama-sama menyatakan dirinya sebagai hacker dan memiliki tujuan untuk melakukan hacking. Mereka juga berbagi area kekuasaan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Area ter sebut ialah sebuah chatroom.
Konsep area dalam chatroom ini tidak berbeda jauh dengan konsep area kekuasan dalam dunia nyata. Dalam chatroom pun ada istilah penguasa lahan (operator), perebutan lahan (channel takeover) dan intimidasi area (flooding). Ada kalanya para anggota sebuah chatroom melakukan “serangan” ke chatroom lain. Selain itu dikenal pula istilah “meminta jasa keamanan” kepada operator yang ahli, biasanya adalah operator di sebuah chatroom besar, yang dalam dunia nyata disebut sebagai God Father. Bagi chat room kecil atau yang baru memiliki anggota sedikit, tidak jarang diganggu oleh pihak yang iseng. Operator chatroom besar rata-rata memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik dalam mengatur sebuah channel dan mengatasi permasalahan yang timbul.
Operator tersebut kemudian diangkat sebagai SOP oleh founder chatroom kecil dan diajak untuk bergabung dalam channel kecil tersebut, walapun hanya sekedar meletakkan nickname saja. Dengan adanya God Father dari chatroom besar tersebut, maka tingkat gangguan terhadap chatroom kecil tersebut dapat dikurangi. Setidaknya membuat pihak yang ingin mengganggu tersebut harus berpikir dua kali, karena bisa saja dia yang terkena serangan balasan atau dicekal untuk masuk ke chatroom lain yang dipegang oleh God Father tersebut.
Salah satu ciri khas yang membedakan antara hacker yang tidak bergabung dengan suatu kelompok hacker tertentu dengan hacker yang memilih bergabung adalah dari kebiasaan meninggalkan “catatan” dalam tampilan sebuah situs yang telah dimodifikasi oleh hacker tersebut. Bagi hacker tanpa kelompok, dia hanya meninggalkan catatan atas nama nickname atau inisial hacker tersebut.
Salah satu contohnya adalah ketika Fabian Clone pada hari Jumat tanggal 24 Mei 2000 menembus sistem sekuriti situs Indofood.co.id dan Rekayasa.co.id, dia hanya meninggalkan pesan-pesan yang diakhiri dengan inisial “F.C.”. Sedangkan bagi hacker yang berkelompok, dia akan menuliskan nama kelompoknya. Salah satu contohnya adalah ketika hC- pada hari Kamis tanggal 16 Mei 2000 menembus sistem sekuriti situs PLN-Jawa-Bali.co.id, dia meninggalkan pesan-pesan tertentu sekaligus mengucapkan salam antara lain kepada rekannya dari kelompok hacker AntiHackerlink.
Di dalam chatroom, kerap terdapat ajakan-ajakan eksplisit atau motivator-motivator untuk melakukan hacking. Salah satu contohnya adalah logs chatroom #AntiHackerlink di bawah ini :
Start Logs Session Start: Wed Mar 21 12:38:10 2001 [12:38] Now talking in #antihackerlink [12:38] Topic is ‘http://www.multysistem.it/, http://www.nicastroebarone.it/ ,http://www.salvatoremirmina.it/, http://www.pensionescala.it/sakitjiwa.txt, http://www.roseeroselline.it/ http://www.cavi-vivai.it/ New TargeT _www.westernunion.com www.payp
al.
com > yg bisa di akui jadi hacker sejati < both of them’
[12:38] Set by chikebum on Wed Mar 21 11:56:49 [12:38] #antihackerlink url is pimp.goes.to.hell.with.the.support.from.antihackerlink.org -cutted- Session Time: Thu Mar 22 00:00:00 2001 -cutted- [07:24] Wagimin changes topic to ‘ANTIHACKERLINK IS BACK !!! | The Hot News seen www.westernunion.com http://www.detik.com/net/2001/03/21/2001321-114641.shtml ! || Last target www.paypal.com || [eF!] My Gift for #ANTIHACKERLINK :: http://hacked.c
en
tralbankasia.com/ [eF!]‘
-cutted- [07:24] <c1sc0-> ANTIHACKERLINK IS BACK! [07:24] <c1sc0-> ANTIHACKERLINK IS BACK! End Logs
Perbedaan jam antara informasi logs tersebut dengan WIB adalah +7. Dari logs tersebut bisa dijelaskan bahwa pada pukul 19.38 WIB, Chikebum memasang topic di #AntiHackerlink yang intinya berisi ajakan atau motivasi untuk melakukan hacking ke situs Western Union salah satunya. Pada pukul 06.19 WIB keesokan harinya, dotcom- mengirimkan e-mail ke penulis yang mengatakan bahwa dia dan eF73 berhasil masuk ke server WesternUnion.com. Siang harinya berita bobolnya server Western Union tersebut dimuat oleh situs www.detik.com. Kemudian pada pukul 14.24 WIB, Wagimin, alias eF73, memasang topic di #AntiHackerlink tentang keberhasilan eF73 dan dotcom- menembus server Western Union, sekaligus memasang alamat situs berita dari Detikcom yang memberitakan keberhasilan mereka.
Sedangkan alamat situs link http://hacked.centralbankasia.com merupakan salah satu tempat curahan data-data kartu kredit dari toko buku online Barners & Nobles yang sistemnya baru saja ditembus oleh AntiHackerlink. Kedua peristiwa tersebut membuat C1sc0- “bersorak” gembira. Hal tersebut merupakan contoh adanya kemungkinan melakukan tindakan persuasif atau memotivasi orang lain di dalam chatroom. Salah satu kebanggaan hacker yang membentuk kelompok maya di chatroom adalah ketika hasil hackingnya dipasang sebagai topic channel, sehingga setiap pengunjung chatroom tersebut pasti membaca isi topik. Terlebih lagi apabila di dalam topik tersebut adalah alamat situs tempat berita keberhasilannya itu dimuat.
Saling memotivasi dan saling memberikan salut merupakan hal yang lumrah dan kerap terjadi di chatroom hacker. Bukti lain bahwa chat room dapat menjadi sarana belajar belajar atau motivasi perilaku hacking adalah ketika hC-, seorang hacker Indonesia yang didenda Rp 150 juta oleh pengadilan Singapura pada tanggal 30 Agustus 2000 karena membobol jaringan komputer di Singapura, oleh Kepolisian Singapura dirinya dinyatakan menggunakan chatroom untuk mempelajari teknik penyusupan ke sebuah jaringan komputer.
Kita kembali kepada konsep Liu tentang syarat eksistensi sebuah komunitas maya., khususnya dalam hal konsistensi pemunculan anggota dan adanya interaktifitas pesan simulasi aksi. Makna pemunculan anggota di sini adalah keberadaan individu dalam sebuah area tertentu secara konsisten. Keberadaan individu tersebut dimanifestasikan dengan keberadaan sebuah nickname yang digunakan secara tetap pada sebuah chatroom secara regular dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan interaktifitas pesan simulasi aksi adalah keberadaan bahasa-bahasa verbal dalam bentuk teks atau tulisan yang memiliki makna atau dimaknai sebagai sebuah aksi yang benar-benar dilakukan.
Jika kedua hal ini digabung, maka maknanya adalah pemunculan nickname secara konsisten dalam sebuah chatroom tertentu yang antara lain dapat melakukan simulasi aksi. Simulasi aksi baru memiliki makna apabila dilakukan secara real-time kepada lawan bicara. Ungkapan “saya mencium kamu” misalnya, akan memiliki makna yang berbeda ketika disampaikan melalui chatroom dan ketika melalui e-mail.
Dalam e-mail, rasa dan makna kehadiran “pada saat itu” menjadi tidak penting. Kejadian bisa terjadi kapanpun (tidak real-time) dan dimanapun (tanpa harus bertemu di satu tempat tertentu). Kejadian apapun yang di dalam milis, termasuk simulasi aksi tersebut, tidak akan memiliki makna seperti dalam chatroom.
Dalam chatroom, rasa dan makna kehadiran menjadi sangat penting. Karena tanpa hadir dalam satu saat yang sama dan tempat maya yang sama, komunikasi dan interaksi tidak akan terjadi. Hal tersebut menjelaskan mengapa simulasi aksi tersebut dapat sedemikian bermakna di chatroom. Kejadian maupun simulasi aksi tersebut benar-benar “dilakukan” dan “terjadi” pada saat itu.
Makna “saya mencium kamu” di dalam milis bisa jadi bermakna seperti sekedar rayuan, sekedar angan, obsesi maupun bayangan. Tetapi jika di chatroom “saya mencium kamu” bisa bermakna “saya saat ini sedang mencium kamu” dan benar-benar tengah terjadi (secara virtual atau setidaknya dalam benak pelaku). Untuk itulah maka konsep-konsep tentang cybersex lebih mengacu kepada chat, ketimbang e-mail. Komunikasi interpersonal akan terasa lebih personal, intensif dan menyentuh bila terjadi secara realtime.
Berdasarkan beberapa hal tersebut di atas, ikatan emosi antar anggota sebuah chatroom jauh lebih kuat ketimbang antar anggota sebuah mailing-list. Hal ini menjelaskan mengapa walaupun para hacker banyak berlangganan mailing-list security, eksistensi mereka tetap dimanifestasikan dalam chatroom. Sekedar contoh, yang kerap disebut sebagai anggota hacker Jasakom bukanlah mereka yang tergabung dalam mailing-list Jasakom, tetapi lebih kepada mereka yang secara konsisten muncul di chatroom #Jasakom.
Hacker Sebagai Individu Sosial
Sebagai individu sosial, seorang hacker tidak pernah lepas dari proses interaksi sosial dengan hacker lainnya atau dengan komunitas hacker-nya. Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, sehingga kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakukan individu yang lain atau sebaliknya. Dari interaksi sosial tersebut maka akan terbentuklah suatu kelompok sosial.
Kelompok sosial adalah suatu unit sosial atau kesatuan sosial yang terdiri atas dua individu atau lebih yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma yang khas bagi kelompok itu. Komunikasi antara hacker dengan hacker lainnya menggunakan sebuah media komunikasi berbasis Internet.
Winn Schawartau dalam bukunya Information Warfare (Thunder’s Mouth Press, 1996) menegaskan bahwa hacker merupakan salah satu jenis individu yang menggunakan Internet sebagai media komunikasi dan media interaksi sosial antar sesama hacker lainnya. Ditambahkan pula oleh Schawartau bahwa kelompok hacker merupakan sebuah subkultur dari masyarakat yang memiliki ketertarikan yang sama dalam hal elektronis (jaringan komputer di Internet) dan antar anggotanya saling terlibat secara mental (emosional). Menurut Howard Rheingold dalam bukunya The Virtual Community (The MIT Press, 2000), Internet merupakan sebuah peluang untuk menghadirkan kembali hubungan antar pribadi yang pada saat ini intensitasnya semakin berkurang.
Di dalam Internet, perbedaan gender, usia, bangsa dan penampilan fisik tidak menjadi soal, karena memang hal tersebut tidak bisa dilihat langsung. Itulah yang menyebabkan hacker tertarik untuk menggunakan Internet sebagai sarana komunikasi dan sekaligus membentuk suatu komunitas, yaitu lantaran Internet memungkinkan hacker dapat berinteraksi dengan pihak lain tanpa harus menunjukkan jati diri sebenarnya (anonimitas / anonimity).
Joel Best dan David Luckenbill dalam bukunya Organizing Deviance (Prentice Hall, 1994) menganalisa bahwa perilaku menyimpang hacker memiliki dua setting yaitu onstage dan backstage. Onstage adalah ketika masing-masing individu beraksi sendiri melakukan hacking, sedangkan backstage adalah saat ketika para pelaku sedang tidak melakukan hacking dan mereka berkumpul untuk saling bersosialisasi dan berkomunikasi.
Berangkat dari beberapa pemahaman di atas, maka artikel ini mencoba memaparkan intisari dari tesis penulis yang berjudul “Pola Komunikasi Dalam Kelompok Hacker Dan Hubungannya Dengan Kegiatan Hacking : Studi Kasus Pada Hacker Di Indonesia”, dan telah dipertahankan di hadapan sidang penguji tesis program studi Ilmu Komunikasi program pascasarjana Universitas Indonesia (UI) pada tanggal 24 Januari 2002. Tesis penulis tersebut menggunakan metodologi kualitatif dengan tipe penelitian eksploratif untuk mendapatkan pemahaman tentang pola pola komunikasi dalam kelompok hacker dan hubungannya dengan kegiatan hacking. Penulis telah menggunakan Internet, khususnya aplikasi Internet Relay Chat (IRC) sejak tahun 1996 dan berprofesi sebagai wartawan bidang TI di media online Detikcom sejak Desember 1999 hingga November 2001.
Saat di Detikcom, penulis banyak melakukan pengamatan perilaku hacker dan menulis berita tentang aktifitas hacking, sehingga mendapatkan pemahaman yang cukup mendalam tentang bagaimana sebuah komunitas maya dapat terbentuk serta dinamika kelompok hacker di Indonesia. Kemudian penulis mulai intensif mengamati chat room para hacker ketika maraknya aktifitas hacking sepanjang tahun 2000 dan tahun 2001. Sebelum menentukan hacker mana yang tepat dan bersedia diwawancara sebagai data primer tesis, penulis melakukan observasi tahap awal ke beberapa chat room hacker, serta melakukan studi literatur tentang berita-berita kegiatan hacking yang dilakukan oleh hacker Indonesia.
Beberapa chat room hacker yang diobservasi antara lain chat room #Hackerlink, #AntiHackerlink, #IndoSniffing, #Jasakom, #Betalmostdone dan #K-Elektronik. Kemudian untuk studi literatur difokuskan pada berita-berita dan artikel-artikel tentang hacker Indonesia dan kegiatan hacking yang dimuat oleh media massa Indonesia. Akhirnya penulis menetapkan tujuh hacker Indonesia yang bersedia di wawancara secara intensif melalui e-mail. (nickname hacker kami samarkan – penulis).
Karakteristik Chatroom dan Komunitas Maya Hacker
Berdasarkan hasil analisa dari data-data yang telah dikumpulkan oleh penulis, terdapat fakta bahwa hacker yang memiliki atau bergabung dalam suatu kelompok hacker tertentu, ternyata menggunakan Internet Relay Chat (IRC) atau chatroom. Bukan tidak mungkin bahwa hacker yang tergabung dalam sebuah chatroom dalam jangka waktu tertentu, secara berkala dan konsisten, bisa membentuk sebuah kelompok hacker tertentu.
Nama kelompok hacker tersebut akan mengikuti nama chat roomnya, ataupun nama chatroom yang dipilih akan menyesuaikan dengan nama kelompok hacker tersebut. Nama dari sebuah chatroom akan mengidentifikasikan nama kelompok hacker tersebut, demikian pula sebaliknya, nama sebuah kelompok hacker akan mengidentifikasikan nama chatroom yang digunakan. Contohnya kelompok hacker AntiHackerlink, Jasakom dan K-Elektronik, masing-masing memiliki chatroom dengan nama #AntiHackerlink, #Jasakom dan #K-Elektronik. Ketiga chat room tersebut berada di sebuah server Internet global yang bernama DALnet.
Berikut ini adalah data-data teknis ketiga chatroom tersebut :
Info for #antihackerlink: Founder : ——– (Anon@202.146.241.142) Mode Lock : -m Last Topic : http://www.research.att.com/sw/tools/uwin/ (zer0_c00l) Description: ::..:: We Are Indonesia Hacker’s Crew ::..:: Options : SecuredOps, Verbose, “Sticky” Topics Memo Level : AOP Registered : Sat 12/01/2001 09:53:08 GMT Last opping: Sun 12/23/2001 09:46:56 GMT *** End of Info ***
Info for #jasakom: Founder : —- (sdfgsdf@202.47.64.58) Mode Lock : -i Description: WWW.JASAKOM.COM Memo Level : AOP Registered : Tue 05/29/2001 02:30:10 GMT Last opping: Sun 12/23/2001 09:42:37 GMT -ChanServ- *** End of Info ***
Info for #k-elektronik: Founder : ———— (~XWindows@thugscript.net) Mode Lock : +cnt-sipkR Last Topic : | Kecoak Crew | the great way to learn (wellex) Description: www.k-elektronik.org URL : http://www.k-elektronik.org Options : SecuredOps, Ident, Topic Lock(S) Memo Level : SOP Registered : Tue 12/04/2001 08:35:17 GMT Last opping: Sun 12/23/2001 11:50:29 GMT *** End of Info ***
Tampak jelas dalam data-data di atas mengenai nickname pendiri (founder), waktu didirikan (registered), deskripsi (description) chatroom, dan sebagainya. Sebuah chatroom dapat menjadi suatu perwujudan dari keberadaan sebuah kelompok sosial atau komunitas hacker. Kemampuan dan fungsi chatroom memang memungkinkan hal tersebut.
Pertama, chatroom mampu berfungsi sebagai sarana komunikasi sosial dan dapat pula menjadi manifestasi kelompok sosial itu sendiri. Kemampuan chatroom menjadi sebuah sarana komunikasi sosial karena secara teknis di dalam chatroom para chatters dapat melakukan komunikasi interpersonal (private chat) dan komunikasi kelompok (public chat). Baik private chat maupun public chat, antar pelakunya harus berada dalam satu tempat yang sama (bertemu dalam satu chatroom tertentu) dan dalam waktu yang sama pula (real time). Salah satu tahap terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak, yang bisa bersifat sekunder (menggunakan media tertentu, dalam hal ini melalui chatroom) dan langsung (tanpa perantara individu lain meskipun tidak face-to-face).
Kedua chatroom mampu menjadi sebuah kelompok sosial. Hal tersebut tak lepas pula dari karakteristik teknis chatroom itu sendiri. Pertama-tama, kita definisikan dahulu arti kata kelompok sosial. Menurut George Hillery dalam jurnal CyberSociology (link http://www.cybersoc.com), ciri komunitas adalah adanya sekelompok orang yang saling melakukan interaksi sosial dan ada suatu persamaan yang mengikat mereka pada kelompok tersebut dan antar sesama anggota kelompok, serta mereka berbagi area tertentu dalam jangka waktu tertentu.
Geoffrey Liu dalam jurnal Computer-Mediated Communication (link http://www.ascusc.org/jcmc), menetapkan beberapa syarat terjadinya komunitas atau kelompok sosial maya, yaitu: (1). adanya ruang publik maya, (2). adanya aktifitas komunikasi dari para komunikator, (3). adanya anggota dengan jumlah besar sehingga memungkinkan terjadinya beberapa interaksi, (4). adanya kestabilan jumlah anggota dan konsistensi pemunculan anggota dan (5). adanya interaktifitas pesan verbal, pesan simulasi aksi dan konsistensi penggunaan nickname.
Di dalam chatroom, khususnya server DALnet, ada jenjang struktural dan fungsional yang baku. Jenjang pertama dan tertinggi adalah founder, super operator (SOP) dan auto operator (AOP) dan temporary operator. Keempat jabatan tersebut selain struktural, juga fungsional. Mereka secara umum disebut Operator (OP) dan menggunakan tanda “@” di depan nickname mereka. Nickname mereka secara otomatis akan berada di urutan teratas dari listname pengunjung chatroom. Ketiganya merupakan penguasa sebuah chatroom yang dapat mengundang orang lain untuk datang, mengusir paksa orang dan mengawasi setiap percakapan publik yang terjadi di chatroom.
Founder adalah pemegang akses tertinggi dalam sebuah chatroom dan hanya dipegang oleh satu orang saja. Seorang founder bisa mengangkat SOP dan AOP. SOP bisa mengangkat AOP. Pengangkatan para SOP dan AOP tersebut memerlukan pendekatan kepada atasaanya. Karena tidak jarang para chatters terpisah antar negara dan sama sekali tidak pernah bertemu satu dengan yang lainnya secara face-to-face. Pengangkatan jabatan tersebut harus berdasarkan kepercayaan dan tidak jarang dengan melakukan lobi-lobi.
Kembali ke pendapat Hillery, syarat penting terjadinya sebuah komunitas maya adalah adanya suatu persamaan yang mengikat mereka pada kelompok tersebut dan antar sesama anggota kelompok, serta mereka berbagi area tertentu dalam jangka waktu tertentu. Para anggota kelompok hacker di chatroom memiliki persaman yang mengikat yaitu anggotanya sama-sama menyatakan dirinya sebagai hacker dan memiliki tujuan untuk melakukan hacking. Mereka juga berbagi area kekuasaan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Area tersebut ialah sebuah chatroom.
Konsep area dalam chatroom ini tidak berbeda jauh dengan konsep area kekuasan dalam dunia nyata. Dalam chatroom pun ada istilah penguasa lahan (operator), perebutan lahan (channel takeover) dan intimidasi area (flooding). Ada kalanya para anggota sebuah chatroom melakukan “serangan” ke chatroom lain. Selain itu dikenal pula istilah “meminta jasa keamanan” kepada operator yang ahli, biasanya adalah operator di sebuah chatroom besar, yang dalam dunia nyata disebut sebagai God Father. Bagi chat room kecil atau yang baru memiliki anggota sedikit, tidak jarang diganggu oleh pihak yang iseng. Operator chatroom besar rata-rata memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik dalam mengatur sebuah channel dan mengatasi permasalahan yang timbul.
Operator tersebut kemudian diangkat sebagai SOP oleh founder chatroom kecil dan diajak untuk bergabung dalam channel kecil tersebut, walapun hanya sekedar meletakkan nickname saja. Dengan adanya God Father dari chatroom besar tersebut, maka tingkat gangguan terhadap chatroom kecil tersebut dapat dikurangi. Setidaknya membuat pihak yang ingin mengganggu tersebut harus berpikir dua kali, karena bisa saja dia yang terkena serangan balasan atau dicekal untuk masuk ke chatroom lain yang dipegang oleh God Father tersebut.
Salah satu ciri khas yang membedakan antara hacker yang tidak bergabung dengan suatu kelompok hacker tertentu dengan hacker yang memilih bergabung adalah dari kebiasaan meninggalkan “catatan” dalam tampilan sebuah situs yang telah dimodifikasi oleh hacker tersebut. Bagi hacker tanpa kelompok, dia hanya meninggalkan catatan atas nama nickname atau inisial hacker tersebut.
Salah satu contohnya adalah ketika Fabian Clone pada hari Jumat tanggal 24 Mei 2000 menembus sistem sekuriti situs Indofood.co.id dan Rekayasa.co.id, dia hanya meninggalkan pesan-pesan yang diakhiri dengan inisial “F.C.”. Sedangkan bagi hacker yang berkelompok, dia akan menuliskan nama kelompoknya. Salah satu contohnya adalah ketika hC- pada hari Kamis tanggal 16 Mei 2000 menembus sistem sekuriti situs PLN-Jawa-Bali.co.id, dia meninggalkan pesan-pesan tertentu sekaligus mengucapkan salam antara lain kepada rekannya dari kelompok hacker AntiHackerlink.
Di dalam chatroom, kerap terdapat ajakan-ajakan eksplisit atau motivator-motivator untuk melakukan hacking. Salah satu contohnya adalah logs chatroom #AntiHackerlink di bawah ini :
===== Start Logs ===== Session Start: Wed Mar 21 12:38:10 2001 [12:38] *** Now talking in #antihackerlink [12:38] *** Topic is ‘__4, http://www.multysistem.it/, http://www.nicastroebarone.it/, http://www.salvatoremirmina.it/ http://www.pensionescala.it/sakitjiwa.txt, http://www.roseeroselline.it/ http://www.cavi-vivai.it/ _ _12New TargeT _www.westernunion.com www.paypal.com _> yg bisa di akui jadi hacker sejati_ <- both of them _’ [12:38] *** Set by chikebum on Wed Mar 21 11:56:49 [12:38] #antihackerlink url is pimp.goes.to.hell.with.the.support.from._antihackerlink.org_ —cutted— Session Time: Thu Mar 22 00:00:00 2001 —cutted— [07:24] *** Wagimin changes topic to ‘_ANTIHACKERLINK IS BACK !!!_ | The Hot News seen www.westernunion.com http://www.detik.com/net/2001/03/21/2001321-114641.shtml ! || Last target www.paypal.com || [eF!] My Gift for #ANTIHACKERLINK :: http://ha
cked.centralbankasia.com/ [eF!]_’
—cutted— [07:24] <c1sc0-> ANTIHACKERLINK IS BACK! [07:24] <c1sc0-> ANTIHACKERLINK IS BACK! ===== End Logs =====
Perbedaan jam antara informasi logs tersebut dengan WIB adalah +7. Dari logs tersebut bisa dijelaskan bahwa pada pukul 19.38 WIB, Chikebum memasang topic di #AntiHackerlink yang intinya berisi ajakan atau motivasi untuk melakukan hacking ke situs Western
Union salah satunya. Pada pukul 06.19 WIB keesokan harinya, dotcom- mengirimkan e-mail ke penulis yang mengatakan bahwa dia dan eF73 berhasil masuk ke server WesternUnion.com. Siang harinya berita bobolnya server Western Union tersebut dimuat oleh situs www.detik.com. Kemudian pada pukul 14.24 WIB, Wagimin, alias eF73, memasang topic di #AntiHackerlink tentang keberhasilan eF73 dan dotcom- menembus server Western Union, sekaligus memasang alamat situs berita dari Detikcom yang memberitakan keberhasilan mereka.
Sedangkan alamat situs link http://hacked.centralbankasia.com merupakan salah satu tempat curahan data-data kartu kredit dari toko buku online Barners & Nobles yang sistemnya baru saja ditembus oleh AntiHackerlink. Kedua peristiwa tersebut membuat C1sc0- “bersorak” gembira. Hal tersebut merupakan contoh adanya kemungkinan melakukan tindakan persuasif atau memotivasi orang lain di dalam chatroom. Salah satu kebanggaan hacker yang membentuk kelompok maya di chatroom adalah ketika hasil hackingnya dipasang sebagai topic channel, sehingga setiap pengunjung chatroom tersebut pasti membaca isi topik. Terlebih lagi apabila di dalam topik tersebut adalah alamat situs tempat berita keberhasilannya itu dimuat.
Saling memotivasi dan saling memberikan salut merupakan hal yang lumrah dan kerap terjadi di chatroom hacker. Bukti lain bahwa chat room dapat menjadi sarana belajar belajar atau motivasi perilaku hacking adalah ketika hC-, seorang hacker Indonesia yang didenda Rp 150 juta oleh pengadilan Singapura pada tanggal 30 Agustus 2000 karena membobol jaringan komputer di Singapura, oleh Kepolisian Singapura dirinya dinyatakan menggunakan chatroom untuk mempelajari teknik penyusupan ke sebuah jaringan komputer.
Kita kembali kepada konsep Liu tentang syarat eksistensi sebuah komunitas maya., khususnya dalam hal konsistensi pemunculan anggota dan adanya interaktifitas pesan simulasi aksi. Makna pemunculan anggota di sini adalah keberadaan individu dalam sebuah area tertentu secara konsisten. Keberadaan individu tersebut dimanifestasikan dengan keberadaan sebuah nickname yang digunakan secara tetap pada sebuah chatroom secara regular dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan interaktifitas pesan simulasi aksi adalah keberadaan bahasa-bahasa verbal dalam bentuk teks atau tulisan yang memiliki makna atau dimaknai sebagai sebuah aksi yang benar-benar dilakukan.
Jika kedua hal ini digabung, maka maknanya adalah pemunculan nickname secara konsisten dalam sebuah chatroom tertentu yang antara lain dapat melakukan simulasi aksi. Simulasi aksi baru memiliki makna apabila dilakukan secara real-time kepada lawan bicara. Ungkapan “saya mencium kamu” misalnya, akan memiliki makna yang berbeda ketika disampaikan melalui chatroom dan ketika melalui e-mail.
Dalam e-mail, rasa dan makna kehadiran “pada saat itu” menjadi tidak penting. Kejadian bisa terjadi kapanpun (tidak real-time) dan dimanapun (tanpa harus bertemu di satu tempat tertentu). Kejadian apapun yang di dalam milis, termasuk simulasi aksi tersebut, tidak akan memiliki makna seperti dalam chatroom.
Dalam chatroom, rasa dan makna kehadiran menjadi sangat penting. Karena tanpa hadir dalam satu saat yang sama dan tempat maya yang sama, komunikasi dan interaksi tidak akan terjadi. Hal tersebut menjelaskan mengapa simulasi aksi tersebut dapat sedemikian bermakna di chatroom. Kejadian maupun simulasi aksi tersebut benar-benar “dilakukan” dan “terjadi” pada saat itu.
Makna “saya mencium kamu” di dalam milis bisa jadi bermakna seperti sekedar rayuan, sekedar angan, obsesi maupun bayangan. Tetapi jika di chatroom “saya mencium kamu” bisa bermakna “saya saat ini sedang mencium kamu” dan benar-benar tengah terjadi (secara virtual atau setidaknya dalam benak pelaku). Untuk itulah maka konsep-konsep tentang cybersex lebih mengacu kepada chat, ketimbang e-mail. Komunikasi interpersonal akan terasa lebih personal, intensif dan menyentuh bila terjadi secara realtime.
Berdasarkan beberapa hal tersebut di atas, ikatan emosi antar anggota sebuah chatroom jauh lebih kuat ketimbang antar anggota sebuah mailing-list. Hal ini menjelaskan mengapa walaupun para hacker banyak berlangganan mailing-list security, eksistensi mereka tetap dimanifestasikan dalam chatroom. Sekedar contoh, yang kerap disebut sebagai anggota hacker Jasakom bukanlah mereka yang tergabung dalam mailing-list Jasakom, tetapi lebih kepada mereka yang secara konsisten muncul di chatroom #Jasakom.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar