Kamis, 21 Juni 2012

Dasar Titah

Pengantar
Setelah TUHAN Allah membebaskan umat-Nya dari Mesir, Ia memimpin mereka menuju Tanah Perjanjian. TUHAN juga memberikan Hukum-hukum dan peraturan-2 sebagai amanat hidup baru  bagi umat pilihan.
TUHAN Allah memberi Hukum Taurat tidak secara lengkap namun berangsur-angsur atau dalam bentuk terpisah-pisah, kepada umat-Nya -bangsa Israel- ketika mereka berada di Sinai. Penyusunan Hukum Taurat menjadi seperti sekarang -sesuai  yang ada dalam kitab Kel, Im, Bil, Ul- dilakukan berabad-abad kemudian.
Lembaga Alkitab Indonesia  menerjemahkan Tora -bhs Ibrani- dan Nomos -bhs Yunani- dengan kata, Hukum, Taurat, Hukum Taurat, Hukum Tuhan, Pengajaran, Hukum Allah, Taurat Musa, Taurat Tuhan, Firman.

Fungsi Hukum Taurat
Dua fungsi Hukum Taurat, yaitu[1]:
  1. Untuk mereka yang belum mengenal Anugerah Tuhan Allah dalam Yesus Kristus, Hukum Taurat mendakwa manusia sebagai orang berdosa. Hukum Taurat merupakan penuntun bagi manusia sampai menjadi percaya kepada Yesus Kristus, Gal 3:23-26. Belajar Hukum Taurat, manusia melihat dosa yang ada padanya dan sadar bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri dari dosa dan hukuman
  2. Untuk mereka yang sudah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, hasil refleksi Hukum Taurat menjadi amanat hidup baru. Orang percaya sudah dapat mentaati Hukum Taurat dengan iman, Rom 1:5, 16, 26, karena hukum itu telah di taruh dalam batin manusia, dan dituliskan dalam hati, Yer 31:33. 

Tuhan Yesus merumuskan keseluruhan Hukum Taurat dan tulisan  para Nabi, menjadi Hukum Utama atau Hukum Kasih dalam Matius 22:37-40.  Hukum Taurat dibagi dalam
a.        Sepuluh Perintah atau Dasa Titah
b.       Hukum-hukum Ibadah di Bait Allah
c.         Hukum-hukum Masyarakat

Dasa Titah
Nabi Musa mendapat secara langsung Sepuluh Perintah atau Dasa Titah dari TUHAN Allah.[2]   Dasa Titah   -devarin, Kel 34:28, Ul 4:13, 10:4- pada awal nya merupakan suara Tuhan Allah dari puncak G.Sinai dan di tulis di atas dua loh batu,  didengar oleh seluruh umat Israel, Kel 19:16 - 20:17.
Kedua loh batu tadi dihancurkan oleh Musa, setelah ia turun dari puncak gunung, karena umat menyembah patung lembu emas, Kel 32:1- 9.  Kemudian TUHAN Allah menulis ulang Dasa Titah pada dua loh batu yang baru, Kel 31:18, 32:15-16, 34:1, 28, band Ul 10:4. Kedua loh batu itu di simpan dalam tabut atau peti perjanjian, Kel 25:16, 40:20.

Pembagian Dasa Titah
Dasa Titah dibagi dalam dua bagian besar,
1.        Hukum I - IV, berisi tanggung jawab manusia kepada Tuhan Allah
2.        Hukum V - X, berisi tanggung jawab manusia kepada sesama manusia

ISI SINGKAT DASA TITAH  KELUARAN 20:1-17
Kel 20:1-3 merupakan pendahuluan atau pengantar dari Dasa Titah. Tuhan Allah berfirman, Akulah, Tuhan Allahmu, yang membawa engkau  keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Prolog tersebut menunjukkan bahwa:
a.      Tuhan Allah lah yang membawa -membebaskan- umat Israel keluar dari Mesir, tempat perbudakan
b.     Tuhan Allah yang mempunyai inisiatif dalam membebaskan umat-Nya tersebut
c.      Karena Tuhan Allah yang membebaskan, maka umat harus menjawab apa yang Tuhan Allah firmankan dengan melaksanakan perintah I - X atau keseluruhan Dasa Titah  
      Jadi, pelaksanaan perintah I-X merupakan akibat tindakan Tuhan Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan dan perhambaan

1. Hukum  Pertama, Jangan Ada Padamu Allah Lain Di hadapanku, Kel 20:3
“Jangan ada padamu allah lain” bermakna bahwa Allah  yang menyatakan Diri kepada Musa dan kemudian umat Israel ialah TUHAN atau YHWH, lihat Kel 2:23 - 4:17. TUHAN Allah yang menyatakan Diri kepada mereka adalah Allah yang Esa, sebagaimana tertulis dalam Ul 6:4, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa, karena TUHAN itu Esa, maka manusia  harus mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Hukum Pertama berbunyi demikian dan sangat penting,  karena:
  1. Selama ± 400 tahun umat Israel tinggal di Mesir, seluruh hidup dan kehidupannya dipengaruhi oleh bangsa tersebut
  2. Untuk masa akan datang -ketika mereka telah tinggal atau berada di Tanah Perjanjian- umat Israel harus tetap percaya  kepada TUHAN, Allah mereka dan tidak boleh menyembah kepada dewa-dewi atau berhala. Semua dewa-dewi atau berhala bahkan apapun yang diutamakan dalam hidup dan kehidupan, lebih dari Tuhan Allah, disebut “allah lain”

2. Hukum Kedua, Jangan  Membuat Patung dan -untuk- Menyembahnya, Kel 20:4-6
Pada hukum yang kedua ini bukan berarti Tuhan Allah menolak hasil kebudayaan dan kreativitas manusia. Akan tetapi :
  1. Manusia dilarang  untuk membuat patung dari benda-benda yang ada di alam semesta atau hasil ciptaan, kemudian menyembahnya sebagai TUHAN Allah, band. Yes 44:9-20.
  2. Tuhan Allah memberi kebebasan kepada manusia agar memilih cara, tempat dan waktu untuk menyembah-Nya, tetapi pusat penyembahan itu hanya pada Dia yang tidak terlihat. Ia adalah Roh, oleh sebab itu, menyembah-Nya harus dalam roh dan kebenaran, Yoh 4:21-24, 15:5-13 
  3.  TUHAN adalah Allah yang hidup, dan tidak dapat dilihat serta di batasi dalam bentuk patung. TUHAN Allah hanya dapat dilihat dan dimengerti melalui iman serta keyakinan bahwa Ia ada, Ibr 11:6. Ia tidak dapat dibayangkan dengan patung, emas, perak atau batu berukir,  Kis 17:29.

3.  Hukum Ketiga, Tidak Menyebut Nama TUHAN Allah Dengan Sembarangan, Kel 20:7
Dalam PL, manusia menyapa Allah dengan berbagai macam sebutan, tetapi yang disebut sebagai nama-Nya adalah -hanya ditulis- YHWH. Kata bhs Ibrani, YHWH -artinya AKU adalah AKU, Kel 13:4, Yang Ada dan Sudah Ada dan Akan Ada,   TUHAN sebagai Allah yang hidup dan kekal- diterjemahkan dengan kata TUHAN.  Nama Allah tersebut, tidak boleh disebut sembarangan, bahkan bagi masyarakat Yahudi, dan tidak boleh disebut. Akibatnya, sampai sekarang kata YHWH -Yahweh, Yahowah, Yehova- sulit dibaca atau disebut dan dimengerti dengan pasti.
Dalam PB, TUHAN Allah menjadi manusia dan hadir di dunia, dikenal dengan nama Yesus, yang berarti Keselamatan yang dari TUHAN Allah. Nama Tuhan Yesus harus disebut dan didahulukan dalam melakukan segala sesuatu, Kol 3:17. Ia juga mengajarkan kepada murid-murid-Nya agar menyebut  namaNya dalam doa, Yoh 14:13-14. Menurut Injil, hanya melalui Yesus manusia memperoleh keselamatan dan hidup kekal, Yoh 3:16, Yoh 14,6, Kis 4:12, Rom 10:9-13.   Contoh penyebutan nama TUHAN Allah dengan sembarangan atau tidak benar, antara lain:
-      sebagai kata seru ketika terkejut, marah, kecewa, dll
-      sebagai semacam “jimat” dengan mengucapkan nama Tuhan berulang untuk mendapat sesuatu
-      untuk menyumpah sesuatu secara rutin, Mat 5:33-37
-      menunjukkan diri sebagai orang saleh, angkuh dan sombong, dll


4. Hukum Kempat, Ingat Dan Kuduskan Hari Sabat,  Kel 20:8-11
Hari Sabat adalah hari ketujuh, dan manusia harus mengkhususkannya untuk menyembah TUHAN. Pada Hari Sabat, umat Allah dan seisi rumahnya -bahkan hewan merekapun- harus berhenti bekerja. Melalui perintah keempat ini:
a.      TUHAN Allah mengadakan “komunikasi” dengan umat-Nya, sehingga mereka dapat menyembah dan memuji-Nya dalam hidup dan kehidupan sehari-hari
b.     Umat Israel harus menyediakan waktu pada hari yang telah disediakan TUHAN Allah  tersebut untuk berdialog dengan-Nya melalui ibadah
c.      TUHAN Allah rela memberi hari/waktu-Nya untuk bergaul khusus dengan manusia, ciptaan-Nya
 
Orang Kristen, berbakti pada Hari Pertama atau Minggu, -Portogis, Domiggo atau Hari TUHAN-. Ibadah pada Hari Minggu dengan beberapa alasan:
-      Tuhan Yesus bangkit dari kematian   
-      Roh Kudus
-      Gereja mula-mula melakukan kebaktian pada setiap Pertama Minggu

5. Hukum Kelima, Menghormati Ayah dan ibu,  Kel 20:12
Dalam arti yang sempit, orang tua hanya terbatas pada ayah dan ibu, secara luas menyangkut guru, pemimpin gereja, majikan, pemimpin dalam pemerintahan, orang yang dituakan, dll. TUHAN Allah telah memberi tugas istemewa kepada orang tua dalam hal mendidik anak-anak untuk mengenal-Nya, dan membesarkan mereka di dalam TUHAN.
Orang tua -di samping sebagai ayah dan ibu kita- adalah sebagai tanda kewibawaan TUHAN atas dan dalam hidup anak-anak. Oleh sebab itu, anak-anak harus menghormati orang tuanya, karena merekalah yang pertama-tama ditugaskan TUHAN untuk memimpin, mengajar dan memerintah anak-anak, Ul 6,1-9, Luk 2:40, 52, Ef 6:1-3. Menghormati orang tua lebih luas dari sekedar  memanggil mereka bapak, ibu, papi, mami, dll. Hal tersebut adalah:
-   orang tua harus dijunjung tinggi tapi tidak boleh didewakan, karena Tuhan Allahlah yang harus diberi tempat tertinggi
-   ayah dan ibu harus diakui sebagai orang tua oleh anak kepada siapapun dan di dalam keadaan apapun
-   menghargai segala sifat-sifat istemewa dan bakat-bakatnya serta kekurangan-kekurangannya
-   selalu bersifat sopan dalam segala hal kepada mereka menaati semua perintahnya.
   Perintah kelima sekaligus mengandung janji untuk masa depan anak-anak, yaitu umur panjang dan berbahagia.


6. Hukum Keenam, Jangan Membunuh Atau tidak Membunuh, Kel 20:13
Larangan ini ada karena TUHAN Allah yang memberikan hidup dan kehidupan. Oleh sebab itu, manusia harus menghormati, memelihara dan memperhatikan serta menatanya dengan baik.
TUHAN Allah sangat menghargai hidup dan kehidupan yang Ia berikan kepada manusia, sehingga   dalam perintah keenam Ia melarang segala sesuatu bisa  mengancam manusia, Mat 5:21-22, 27:3-5, 1Yoh 3:15.
Nyawa orang tidak boleh dirampas dengan sembarangan, TUHAN Allah  melarang semua tindakan sengaja -misalnya, membunuh, pengguguran kandungan, menyuntik mati orang yang sudah uzur dan penyakitnya tidak tersembuhkan- dan tidak disengaja -misalnya, pembunuhan tidak terencana- sehingga mengakibatkan orang lain kehilangan nyawanya.


7. Hukum Ketujuh, Jangan Berzinah atau Tidak Boleh Berzinah, Kel 20:14
Perintah ini ditujukan untuk melindungi dan memelihara hidup dan kehidupan rumah tangga, perkawinan serta demi kesucian hubungan seksual antara suami-isteri, 1 Tes 4:1-7, dan juga setiap keinginan dan tindakan seksual pranikah dan di luar nikah atau perka-winan merupakan perzinahan, 1 Kor 6:12 - 7:16. Di samping itu, adanya larangan berzinah, karena:
-      kehidupan seksual -dalam arti keinginan dan tindakan sexual- hanya boleh terjadi dalam perkawinan
-      perkawinan -dan segala hal yang menyangkut kehidupan seksual- harus dijunjung tinggi sebagai pemberian TUHAN Allah
-      tubuh orang percaya telah menjadi kediaman Roh Kudus, 1 Kor 16:18-20

8. Hukum Kedelapan, Jangan Mencuri atau Tidak Mencuri, Kel 20:15
Mencuri adalah mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi. Harta yang dimiliki oleh  seseorang harus di mengerti sebagai pemberian Tuhan, sehingga bukan hanya dipakai untuk diri sendiri tetapi juga demi kemulian TUHAN.
Manusia harus menjauhkan diri dari segala macam pencurian, korupsi dan tipu daya terhadap milik orang lain, Mat 6:19-20, Yak5:1-6, Rom 13:5-7

9. Hukum Kesembilan, Jangan Mengucapkan Saksi Dusta atau Tidak Berdusta, Kel 20:16
Perintah ini melarang manusia melancarkan tuduhan palsu terhadap sesamnya -di muka umum maupun dengan diam-diam- tetapi hendaklah menjadi saksi-saksi kebenaran. Menjadi saksi kebenaran, maka manusia mampu menentang pekerjaan si Iblis yang menjadi pembohong dan bapa pembohong, Mrk 14:55, Yak 4:11-12, Yoh 8:44.
Manusia -seseorang- berdusta disebabkan karena untuk membela diri, takut dihukum, marah, iri, dan lain-lain. Semuanya itu berdasarkan niat dalam hati orang yang mengucapkan saksi dusta untuk mencari keuntungan diri sendiri. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa semua dusta adalah melanggar Perintah TUHAN Allah, Im 19:11, Yoh 8:44, Wah 21:8.

10. Hukum Kesepuluh, Tidak Mengingini Milik Orang Lain, Kel 20:17
  Manusia tidak saja dilarang untuk melakukan dosa dengan perbuatan-perbuatan tetapi juga terhadap segala keinginan yang timbul dalam hati, Rom 7:7, 1 Tim 6:10, Mat 15:19.   Apa -keinginan- yang ada dalam diri manusia, bila tidak dikuasai, dapat menimbulkan perbuatan atau tindakan yang berlebih-lebihan, Mrk 7:20-23. Manusia harus menguasai keinginannya, bukan sebaliknya. Jika keinginan -apalagi keinginan yang negatif, sehingga merugikan orang lain- mengusai seseorang maka ia bisa saja mendapatkannya dengan penipuan, pemalsuan, perampokkan, pembunuhan, fitnahan, korupsi, dan lain sebagainya. Perintah kesepuluh bertujuan agar manusia:
-      melindungi dan menolong orang lain untuk memelihara miliknya
-      menolong sesama manusia menggunakan segala yang ada padanya dengan rasa aman
-      memelihara kerukunan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar